Jakarta masih punya senja. Kabar baiknya, senja adalah milik publik.
Langit, kini menjadi ruang publik yang mencuri-curi sadar. Yang menyatukan mata dengan rona biru dan emas. Bayang-bayang panjang dan mulai hilang, berganti cemerlang lampu yang terbangun dari lelap.
Delapan juta manusia. Satu atap. Satu senja. Delapan juta manusia mengarungi deras waktu yang sama. Kini, sepotong langit biru dan sekeping matahari, akankah terus menjadi milik bersama? 
18 November 2013. Jakarta mengingatkan bahwa selalu ada saat untuk pulang dan beristirahat.

Jakarta masih punya senja. Kabar baiknya, senja adalah milik publik.

Langit, kini menjadi ruang publik yang mencuri-curi sadar. Yang menyatukan mata dengan rona biru dan emas. Bayang-bayang panjang dan mulai hilang, berganti cemerlang lampu yang terbangun dari lelap.

Delapan juta manusia. Satu atap. Satu senja. Delapan juta manusia mengarungi deras waktu yang sama. Kini, sepotong langit biru dan sekeping matahari, akankah terus menjadi milik bersama? 

18 November 2013. Jakarta mengingatkan bahwa selalu ada saat untuk pulang dan beristirahat.



Taking it as a whole, and surveying it from every point of view, Java is probably the very finest and most interesting tropical islant in the world. …and it is undoubtedly the most fertile, the most productive, and the most populous island within the tropics. Its whole surface is magnificently varied with mountain and forest scenery. It possesses thirty-eight volcanic mountains, several of which rise to ten or twelve thousand feet high. Some of these are in constant activity, and one or other of them displays almost every phenomenon produced by the action of subterranean fires, except regular lava streams, which never occur in Java. The abundant moisture and tropical heat of the climate causes these mountains to be clothed with luxuriant vegetation, often to their very summits, while forests and plantations cover their lower slopes. The animal productions, especially the birds and insects, are beautiful and varied, and present many peculiar forms found nowhere else upon the globe. The soil throughout the island is execeedingly fertile, and all the productions of the tropics, together with many of the temperate zones, can be easily cultivated. Java too possesses a civilization, a history and antiquities of its own, of great interest…The former (Brahminical) religion was accompanied by a civilization which has not equalled by the conquerors; for, scattered through the country, especially in the eastern part of it, are found burried in the lofty forests, temples, tombs, and statues of great beauty and grandeur; and the remains of extensive cities, where the tiger, the rhinoceros, and the wild bull now roam undisturbed.
Alfred Russel Wallace’s writing about Java (via -sur)

nation & character building

Gelora Bung Karno (salah satu proyek Nation & Character Building yang digagas Soekarno, saat ini menjadi satu2nya stadion yang dipergunakan dalam pertandingan2 besar dan utama di Indonesia)

Membangun bangsa (Nation Building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan-satu bangsa yang merdeka dalam abad ke-20 ini! Itulah intisari pokok daripada Mandat MPRS kepada saya! Sesungguhnya toch: bahwa membangun suatu Negara, membangun ekonomi, membangun Tehnik, membangun pertahanan,  adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya: Membangun-Jiwa-Bangsa!….

Tentu saja keahlian adalah perlu!Tetapi keahlian saja, tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan mencapai tujuannya. Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya! Nation & Character Building!! Tentu saja usaha ini pun memakan ongkos, memerlukan biaya, tetapi hasilnya sungguh berlipat-lipat ganda lebih besar, dibandingkan dengan pengeluarannya! ….

saripati dari proyek-proyek mandataris itu dapat dipertanggungjawabkan, karena maksud dan tujuannya adalah tidak-lain-tidak-bukan untuk memberikan Jiwa kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia yang Merdeka!

semua orang baru tahu, betapa revolusionernya pemikiran soekarno pada saat itu, banyak yang mencela karena pengeluaran yang begitu besar *barter dengan hasil bumi berupa karet, tetapi hasilnya bisa dinikmati sampai sekarang. Peletakan dan pembuatan GBK yang sangat diperhitungkan. Kemampuannya menjadi oase ditengah kota dan ruang terbuka untuk masyarakat kota (kita pun masih menikmatinya hingga hari ini). Ironis jika dibandingkan dengan proyek-proyek pemerintah jaman sekarang.

Membangun tanpa mengerti esensi.


RANCAK BANA!

Siapa sangka kota bisa dicicip, dikecap, tiada habisnya? Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Simpang Ampek, setiap jengkal kota menawarkan rasa unik yang patut dicoba. Berbagai macam olahan makanan ditawarkan oleh kota-kota ini. Dari yang pedas hingga manis. Semua mengusung satu tema; kental.

Sungguh menarik bagaimana orang-orang minang mampu mewariskan kepiawaian mereka mengolah makanan dari generasi ke generasi. Budaya merantau juga tidak membuat mereka lupa dengan selera lidah, mereka ciptakan kedai masakan padang di seantero nusantara. Warisan budaya atau heritage tidak melulu tentang tarian atau bangunan tua, tapi juga soal resep dan rasa.

Nagari Tuah Sakato; rancak bana!


“He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” 
― George Orwell, 1984

Ada yang bilang kota adalah tentang persepsi. Ia bisa jadi sangat indah dalam kenang, juga bisa jadi sebaliknya. Dan kota adalah tentang manusia-manusia yang memompa dan mengaliri nadinya. 

Bagaimanakah persepsi tentang prasasti masa lalu dan kronik masa kini?

Malam itu di pertigaan Asia Afrika- Braga, saya duduk dan termangu. Di sebelah saya mangkuk bubur telah licin tandas. Kosong. Gelap. Jendela-jendela tua itu juga hitam. De Fritz dan bouvenlightnya seperti tidur, napasnya naik turun teratur. Saya bagai pekerja asuransi ingin memproyeksi berapa nilai hidupnya. Sulit. Ada nilai-nilai abstrak yang hanya ia miliki. Meski tamak dan kehendak kuasa lebih sering mengendalikan materi. 


Yang kecil, unik, dan kaya detail seperti komunitas etnis, warisan kota lama, kampung-kampung kota, dan permukiman masyarakat asli, luput dari  representasi, dianggap tidak ada, dan tidak terikutkan dalam perencanaan yang top-down.



Malam membunuh bulan. De Fritz tetap diam. Untuk itu semua kita bicara.

“He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” 

― George Orwell, 1984

Ada yang bilang kota adalah tentang persepsi. Ia bisa jadi sangat indah dalam kenang, juga bisa jadi sebaliknya. Dan kota adalah tentang manusia-manusia yang memompa dan mengaliri nadinya. 

Bagaimanakah persepsi tentang prasasti masa lalu dan kronik masa kini?

Malam itu di pertigaan Asia Afrika- Braga, saya duduk dan termangu. Di sebelah saya mangkuk bubur telah licin tandas. Kosong. Gelap. Jendela-jendela tua itu juga hitam. De Fritz dan bouvenlightnya seperti tidur, napasnya naik turun teratur. Saya bagai pekerja asuransi ingin memproyeksi berapa nilai hidupnya. Sulit. Ada nilai-nilai abstrak yang hanya ia miliki. Meski tamak dan kehendak kuasa lebih sering mengendalikan materi. 

Yang kecil, unik, dan kaya detail seperti komunitas etnis, warisan kota lama, kampung-kampung kota, dan permukiman masyarakat asli, luput dari  representasi, dianggap tidak ada, dan tidak terikutkan dalam perencanaan yang top-down.

Malam membunuh bulan. De Fritz tetap diam. Untuk itu semua kita bicara.


If you would see how interwoven it is in the warp and woof of civilization … go at night-fall to the top of one of the down-town steel giants and you may see how in the image of material man, at once his glory and his menace, is this thing we call a city. 

_Frank Lloyd Wright; The Art and Craft of the Machine


Berjalan di muka mereka. Pintu-pintu tertutup. Lampu jalan hanya membuka mata di sudut, seakan enggan berbagi terangnya pada kekosongan. Matahari senja baru saja jatuh, tapi kawasan ‘pasar baru’ di kota Jambi telah memejamkan mata. Tak ada tawar menawar. Tak ada uang berpindah tangan. Manusia bergerak secepat barang-barang dikemas masuk, gembok mengunci rapat. Kehidupan berpindah lambat-lambat ke ruang tak jauh dari sana, ke ruang dibanjiri cahaya. Mengumpul. Memusat.

Jambi boleh bangga memiliki Batanghari. Kendati terdapat keberadaan pusat belanja yang mengganggu pandangan, syukurlah masih ada sisa ruang untuk menikmati gemuruh airnya. Selamat menikmati promenade Batanghari berfasilitas tempat duduk, lengkap dengan pedagang kaki lima. Meski dihujani bau kurang sedap di sebagian tempatnya, toh hidung telah terbiasa. Keramaian tepi air selalu menjadi magnet manusia untuk menjadi lebur dan baur. Setidaknya begitulah bagi warga kota Jambi.

Maka biarlah malam menjadi saat manusia menikmati kemanusiaan. Pendar-pendar cahaya menari di atas air, jagung bakar, dan bertukar kabar rasanya cukup menyenangkan.


urban think tank :)


everybody loves bandung!


Sapardi pernah menuliskan dalam Sonnet X, sebuah pertanyaan yang berujung tunggal:
Siapa menggores di langit biru
siapa meretas di awan lalu siapa mengkristal di kabut itu
siapa mengertap di bunga laju
siapa tjerna di warna ungu
siapa bernafas di detak waktu
siapa berkelebat setiap kubuka pintu
siapa mentjair di bawah pandangku
siapa terucap di tjelah kata-kataku
siapa tiba mendjemput berburu
siapa tiba-tiba menjibak tjadarku
siapa meledak dalam diriku
siapa Aku

(1968)

Sajak itu tiba-tiba menyelip dan menyatu dengan kehidupan manusia urban saat ini. Sore, langit terbuka, dan jajanan khas nusantara. Bukankah ini semacam dejavu?
Bukankah ini serupa pasar tradisional di masa lalu?
Beberapa berujar, bentuk ini lain, bentuk yang lebih beradab (katanya).

…

manusia selalu bertanya, siapa aku? mencari-cari bentuk baru. Padahal sejatinya, kita selalu sama di dalam sini.

…
NB : Maka takperlulah gunakan semboyan menikmati keromantisan masa lalu. Karena yang disebut masa lalu itu hanya kemasan yang berubah dengan isi yang tetap sama :)

Sapardi pernah menuliskan dalam Sonnet X, sebuah pertanyaan yang berujung tunggal:

Siapa menggores di langit biru

siapa meretas di awan lalu siapa mengkristal di kabut itu

siapa mengertap di bunga laju

siapa tjerna di warna ungu

siapa bernafas di detak waktu

siapa berkelebat setiap kubuka pintu

siapa mentjair di bawah pandangku

siapa terucap di tjelah kata-kataku

siapa tiba mendjemput berburu

siapa tiba-tiba menjibak tjadarku

siapa meledak dalam diriku

siapa Aku

(1968)

Sajak itu tiba-tiba menyelip dan menyatu dengan kehidupan manusia urban saat ini. Sore, langit terbuka, dan jajanan khas nusantara. Bukankah ini semacam dejavu?

Bukankah ini serupa pasar tradisional di masa lalu?

Beberapa berujar, bentuk ini lain, bentuk yang lebih beradab (katanya).

manusia selalu bertanya, siapa aku? mencari-cari bentuk baru. Padahal sejatinya, kita selalu sama di dalam sini.

NB : Maka takperlulah gunakan semboyan menikmati keromantisan masa lalu. Karena yang disebut masa lalu itu hanya kemasan yang berubah dengan isi yang tetap sama :)